Pada zaman dahulu kala. Tersebutlah sebuah kampung yang subur dan permai, desa Kawar namanya. Di desa itu terdapat sebuah mata air yang dimanfaatkan penduduk sebagai sumber air minum. Penduduknya hidup dari bertani. Dan jika mereka habis panen, biasanya akan digelar Gondang Guro-Guro Aron, musik khas masyarakat Karo. Dalam acara itu penduduk akan bersuka cita, berdendang dan manortor. Remaja lelaki dan perempuan akan manortor berpasang-pasangan. Begitulah cara penduduk Kawar mengadakan selamatan untuk panen yang mereka nikmati.

Pada suatu waktu, Desa Kawar mengalami panen raya. Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Hasil panen meningkat dua kali lipat. Lumbung-lumbung penduduk penuh semua dengan padi. Bahkan banyak warga harus membuat lumbung-lumbung baru, supaya dapat menampung hasil panen yang melimpah. Untuk mensyukuri panen raya ini, warga desa Kawar bersepakat untuk mengadakan pesta “Mejuah-juah” satu hari penuh, diisi dengan upacara adat dan makan besar secara bersama.

Hari pesta itu pun tiba. Desa Kawar tampak semarak. Pagi-pagi, warga telah datang ke tempat pesta digelar. Di sebuah lapangan terbuka, di situlah mereka berkumpul. Mereka memakai pakaian aneka warna nan indah. Sebagian kaum perempuan tampak sibuk memasak. Memasak berbagai macam masakan untuk disantap bersama dalam upacara tersebut. Di sebuah rumah di dekat sebuah mata air, tinggallah seorang nenek tua renta. Dia menderita sakit, lumpuh. Ia baru saja melepas kepergian anak, menantu dan cucunya untuk hadir dalam upacara itu. Ia terbaring dalam kesendiriannya. Rasa sepi menyergapnya.

Beberapa saat berlalu. Kemudian, sayup-sayup ia mulai mendengar suara Gondang Guro-guro Aron telah ditabuh. Angin juga membawa suara derai tawa gembira ke telinganya. Ia menebarkan pandangannya ke luar melalui jendela kamar. Ia tersenyum tiap kali mendengar keriuhan pesta itu. Dan teringatlah ia ketika dahulu masih remaja. Lelaki dan perempuan manortor berpasangan-pasangan dan ia ada di antara mereka. Banyak pemuda berlomba ingin berlama-lama manortor dengannya. Maklum, dahulu ia tidak hanya pandai manortor. Ia juga terkenal sebagai kembang desa Kawar. Alangkah bahagianya saat-saat seperti itu. Beberapa saat berlalu. Suara keriuhan pesta makin terdengar jelas.

Baca juga:  Marga, Tarombo, dan Tutur

“Ya, Tuhan, betapa aku ingin berada di pesta itu. Aku ingin manortor sepuas hatiku. Tapi, usia tua dan kelumpuhan ini membuatku tak berdaya, ” jeritnya dalam hati. Beberapa saat kemudian airmatanya pun turun berderai. Airmata kerinduan, kesepian dan penyesalan akan nasib. Kadang ia merasa seperti orang tak berguna.

Tiba saatnya makan siang. Musik Gondang dihentikan sementara. Semua warga desa Kawar berkumpul untuk menyantap hidangan makan siang yang telah tersedia. Dengan lahap mereka menyantapnya. Panggang babi dan gulai sapi tersaji bersama nasi yang masih mengepul. Semua bergembira. Sesekali terdengar tawa riuh mereka karena ada saja yang membuat lelucon. Kegembiraan itu menyebabkan mereka lupa pada sang nenek yang terbaring di rumahnya dalam keadaan kelaparan. Anak, menantu dan cucunya juga lupa padanya. Waktu terus berlalu. Sejak tadi si nenek mengharapkan kiriman nasi dan lauknya, yang akan dibawa oleh cucunya, si Tongat. Tapi, tunggu punya tunggu, tak seorang pun yang datang.

Sakit perutnya makin melilit karena didera kelaparan yang sangat. Ia tak kuat. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada padanya, ia mencoba turun dari ranjangnya. Tapi, ia kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh. Ia tersungkur ke lantai tanah, karena tak kuat menahan beban tubuhnya sendiri. Ia mencoba merangkak. Perlahan dan tertatih ia merangkak menuju ke dapur untuk melihat kalau-kalau ada yang bisa ia makan. Tapi, tak ada apa-apa. Rupanya, anak dan menantunya hari itu sengaja tidak memasak. Pikir mereka, di tempat pesta akan tersedia banyak makanan, sehingga nanti mereka tinggal mengambilnya dan mengirimkan makanan itu melalui cucunya si Tongat.

Baca juga:  Contoh Seni Budaya Nusantara dan Mancanegara

Beberapa saat kemudian. Tubuh si nenek tampak gemetar menahan kelaparan. Di dapur ia tak mendapatkan apa-apa. Ia sangat kecewa. Dengan beringsut dan tertatih-tatih ia kembali ke pembaringannya. Nafasnya tersenggal menahan rasa kecewa dan kemarahan. Ia merasa seperti disia-siakan. Kemudian airmatanya berderai meratapi nasibnya penderitaannya.

“Oh Tuhan, aku sudah tak kuat menahan rasa lapar ini,” tangisnya sembilu. ” Mereka sungguh tega membiarkan aku menderita seperti ini, ” ujanya seperti berbisik mengungkapkan rasa kecewanya.

Sementara itu, pesta makan sore dalam upacara itu baru saja usai. Sang anak tiba-tiba teringat pada ibunya di rumah. Ia segera menghampiri istrinya. “Istriku, apakah kamu tadi sudah mengantar makanan untuk ibu?” tanyanya lekas.

“Belum, suamiku, ” jawab sang istri.

“Ibu sudah pasti kelaparan. Segeralah kau bungkus makanannya, lalu suruhlah si Tongat, anak kita, untuk menghantarkannya ke rumah,” perintah sang suami.

“Baiklah,” jawab sang istri.

Wanita itu pun bersegera membungkus makanan, lalu memanggil anaknya. ” Tongat, antarkan makanan ini kepada nenekmu di rumah,” perintahnya kepada sang anak.

“Baik, Bu,” jawab Tongat sambil menerima bungkusan makanan. Ia pun berlari membawa makanan itu pulang. Beberapa saat berlalu. Sesampainya di rumah, Tongat segera menyerahkan bungkusan itu kepada neneknya.

“Ini makanannya, Nek. Tapi, nenek makanlah sendiri karena Tongat harus kembali ke tempat upacara,” ujarnya bergegas kembali.

Dengan sisa tenaga yang ada padanya, sang nenek membuka bungkusan makanan tersebut. Ia telah membayangkan akan menikmati makanan yang lezat. Namun, ketika bungkusan tersebut dia buka, betapa dia kecewa, karena mendapati isinya hanyalah sisa-sisa makanan. Beberapa tulang sapi dan kambing yang hampir sudah dagingnya, dan sedikit sisa nasi. Itulah yang dia dapatkan.

Baca juga:  Pariban

Ia seperti tak percaya apa yang dia lihat. “Ya, Tuhan, apa mereka sudah menganggapku seperti binatang? Mereka hanya memberiku sisa-sisa makanan dan tulang-tulang. Mereka sekarang telah terang-terangan menghinaku. Sungguh, tak dapat kumaafkan penghinaan mereka,” tangis si nenek meledak dalam kemarahan yang sangat.

Sebetulnya, bungkusan tersebut berisi lauk daging yang masih utuh, termasuk di dalamnya babi panggang satu porsi dan nasi yang cukup untuk si nenek. Tetapi, di tengah jalan, si Tongat telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang-tulang.

Tiada si nenek mengetahui kejadian yang sebenarnya. Ia mengira anak dan menantunya tega melakukan hal itu padanya. Dengan perlakuan seperti itu, hatinya terasa hancur. Air matanya terus-menerus mengalir menyesali keadaan yang telah terjadi. Maka ia pun kemudian berdoa kepada penguasa alam untuk mengutuk anak dan menantunya itu.

“Mereka telah berbuat durhaka kepadaku. Sekarang aku menyumpahi mereka,” ujarnya memohon kepada penguasa alam semesta.

Beberepa saat berlalu. Tiba-tiba langit tampak mendung. Guntur dan kilat bertalu-talu memecah langit. Bersamaan turunnya hujan lebat, desa Kawar digoncang oleh gempa bumi.

Seluruh penduduk yang tadinya sangat bersuka cita, seketika menjadi panik. Wajah-wajah ketakutan tampak di mana-mana. Jerit-tangis terdengar di mana-mana. Namun, mereka tak bisa menghindar dari keganasan alam yang dahsyat itu. Dalam sekejap, desa Kawar yang subur dan makmur tenggelam oleh hujan deras yang tiada henti selama berhari-hari. Beberapa hari kemudian, desa itu telah beruba menjadi sebuah kawah besar yang dipenuhi genangan air.

Demikianlah oleh masyarakat Karo ia diberi nama Lau Kawar. Danau yang terletak sekitar 80 km dari Medan.

dari berbagai sumber

Sumber : http://www.gobatak.com/legenda-lau-kawar-di-karo/