Danau ini diyakini sudah ada sejak tahun 1800-an. Bermula saat Ompu Sawangin Simalango pindah dari Huta Tinggi, Pangururan, ke Desa Sabungan Nihuta.

Ompu Putri Simalango (78), generasi ke-9 dari Ompu Sawangin Simalango, menjelaskan bahwa Danau Sidihoni muncul karena kayu-kayu yang tumbuh di rawa-rawa ditebangi.

“Danau ini pernah mengalami tiga kali kekeringan hebat,” kata Ompu Putri.

Dia bercerita, kekeringan hebat pertama terjadi pada 1943 saat penjajahan Jepang, kemudian sekira 1958 saat pemberontakan Kolonel Simbolon, dan yang terakhir adalah saat gempa dahsyat di Aceh 2004 silam.

Baca juga:  Selamat Hari Natal 25 Desember 2012 dan Tahun Baru 1 Januari 2013

Menurut Ompu Putri, kekeringan terparah adalah pada tahun 1943. Sementara saat gempa di Aceh, danau tersebut terbelah.

“Terdapat lubang berdiameter sekira 5 meter di bagian tepinya,” ujar Ompu Putri.

Dia mengingat, kala itu warga bergotong royong menutupi lobang besar dan tanah tanah yang terbelah tersebut.

Meski telah 3 kali dilanda kekeringan, namun Ompu Putri menyebut jika kekeringan itu terjadi bukan karena musim kemarau, melainkan karena suatu masalah besar.

“Buktinya tahun 2016 lalu kemarau sampai setahun, danau ini nggak kering. Bahkan surutnya paling hanya 1 meter. Jadi danau ini hanya kering saat ada masalah-masalah besar yang melanda negeri ini,” ujarnya.

Baca juga:  Selain Pelabuhan, Kemenhub Akan Bangun 6 Kapal Wisata di Danau Toba

Selain itu, ada misteri lain yang jarang terdengar selama ini tentang Danau Sidihoni.

Misteri apa itu?

Yakni adalah adanya lubang besar di sebelah timur danau. Lubang itu diyakini tembus hingga bagian danau di Ambarita, Kecamatan Simanindo, Samosir.

Lubang inilah yang diyakini sebagai sungai di perut Pulau Samosir, yang aliran airnya bermuara hingga ke Danau Toba di kawasan Ambarita.

Baca juga:  Sam Poo Kong

Bukti lain yang kian membenarkan keberadaan sungai di Perut Pulau Samosir adalah adanya batu bernafas di kawasan Simargarantung, Kecamatan Simanindo, Samosir.

Persis di tepi jalan raya, batu yang menjulang tinggi itu mengeluarkan hembusan angin dari rongga batu. Udaranya bahkan sangat dingin.

Banyak yang mengatakan jika udara yang keluar dari celah batu itu adalah akibat aliran sungai yang berada di dalam perut Pulau Samosir.

“Makanya kami yakini kalau di bawah pulau Samosir ini ada sungai,” ujar Ompu Putri. [batakgaul]