Kategori: Musik
Elemen Budaya: Musik dan Lagu
Provinsi: Sulawesi Selatan
Asal Daerah: Sulawesi Selatan

Kesok-kesok adalah nama instrumen gesek berdawai satu dari Sulawesi Selatan yang dimainkan secara vertikal sambil duduk oleh satu orang sambil bernyanyi atau bertutur Menurut Ensiklopedi Musik Indonesia dan salah satu referensi lainnya, kesok-kesok bisa jadi merupakan instrumen tertua dan paling sederhana (primitif) di Sulawesi.

Alat musik ini biasa digunakan dalam salah satu tradisi seni khas Sulawesi yang disebut sinrilik. Pemainnya biasa disebut sebagai pasinrilik. Di masa awal kelahirannya sekitar abad ke-15, sinrilik biasa digunakan sebagai penyampai pesan raja dari istana. Di masa-masa berikutnya sinrilik mulai menyajikan kisah epik seputar hikayat dan legenda yang dinyanyikan semalam suntuk. Cerita sinrilik tersusun secara puitis, yang didalamnya disisipkan humor dan kritik sosial. Kesenian ini dimainkan secara spontan dan terbuka kemungkinan bagi penonton untuk berkomentar, sehingga ada unsur interaktif dan improvisasi dalam penuturannya.

Baca juga:  Patrol...Musik Banyuwangi

Musik kesok-kesok ini sendiri sangat sederhana. Biasanya nada-nada yang dimainkan hanya berputar-putar secara bebas di empat atau lima nada tanpa oktaf. Berikut ini adalah contoh transkripsi bebas kalimat musik dari nyanyian dan permainan kesok-kesok dari CD Discover Indonesia:

Baca juga:  Tenggang Tenggang Lopi

Bentuk kalimat-kalimat musik kesok-kesok ini sangat mirip dengan Gregorian Chant di abad pertengahan, khususnya yang berbentuk liturgical recitative. Termasuk penggunaan empat nada utama tetrachord-nya yang dimainkan secara bebas tanpa ketukan maupun birama, mengikuti penuturan cerita.

Untuk lagu kesok-kesok di rekaman ini, nada yang digunakan hanya berputar-putar di:

(F#) – G – A – B – C

Dengan tonik di G, secara tension bow dapat didengar perpindahan nadanya hanya melulu bergerak di harmoni Subdominant ii yang kemudian di-resolve ke Tonik I. Kalimat musik biasa dimulai dari ii atau A. F# digunakan hanya sebagai leading note sebelum ke tonik G.

Baca juga:  Cik Cik Periok

Tidak diketahui dengan pasti apakah pengaruh Gregorian Chant ini berasal dari misionaris agama Kristen/Katolik yang datang di Sulawesi Selatan atau tidak. Karena, saat Portugis dan Belanda tiba di wilayah itu pada abad ke-16, ajaran agama Islam sudah berkembang cukup kuat di sana. Namun menurut salah satu sumber dikatakan bahwa, bagaimanapun, pengaruh Barat dan Kristen terlihat cukup signifikan di Toraja dan area dataran tinggi.

 

Source: budaya-indonesia.org