Kategori: Musik
Elemen Budaya: Musik dan Lagu
Provinsi: Sulawesi Selatan
Asal Daerah: Sulawesi Selatan

Lagu “Anging Mammiri” tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita, berkat buku-buku kumpulan lagu daerah yang menjadi pegangan para pelajar sekolah dasar di Indonesia. Namun, tidak banyak yang tahu bahasa apa yang digunakan lagu ini. Banyak yang mengira lagu ini dalam bahasa Bugis, padahal yang benar adalah bahasa Makassar. Lho, memang apa bedanya? Meski sama-sama berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan, bahasa Bugis dan bahasa Makassar adalah dua bahasa yang berbeda. Penutur kedua bahasa ini tidak bisa memahami satu sama lain, oleh karena itu komunikasi antar-suku di Sulawesi Selatan biasanya dilakukan dalam dialek Makassar.

Lho, beda bahasa Makassar dan dialek Makassar apa? Bahasa Makassar adalah bahasa tersendiri yang tidak bisa dimengerti oleh penutur bahasa Indonesia/Melayu, sedangkan bahasa Indonesia (atau Melayu) dialek Makassar kurang lebih sama dengan bahasa Indonesia yang digunakan di daerah lain, tapi banyak menyerap fitur berbagai bahasa dan dialek di Sulawesi Selatan; Bugis, Makassar, Toraja, Mandar, dan lain sebagainya. Ciri khas dialek Makassar adalah penambahan akhiran seperti “ki”, “ji”, “mi”, “kodong”, dan lain-lain. 

Baca juga:  Ribulah-Ribu

Contoh:

  • “Mau ke mana, ki?”
  • “Ayo makan, mi!”
  • “Kasihan sekali, kodong…”

Kembali lagi ke “Anging Mammiri”, banyak yang menggemari lagu ini tanpa mengetahui arti yang sebenarnya. Banyak penyanyi, paduan suara (koor) dan band yang membawakan kembali lagu ini dengan nada yang ceria, bahkan dengan air muka yang sumringah. Tentu harus kita hargai upaya mereka dalam melestarikan warisan budaya Indonesia, akan tetapi alangkah baiknya jika lagu tersebut dibawakan sesuai dengan maknanya.

Seyogianya “Anging Mammiri” adalah lagu sedih tentang kerinduan akan orang yang terkasih, jadi sungguh tidak tepat jika dinyanyikan dengan ekspresi bahagia, apalagi sambil menari-nari dengan rentak yang rancak. Berikut lirik lagu “Anging Mammiri” beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia untuk menjadi rujukan kita bersama. Jika ada yang salah, silakan koreksi saya.

Baca juga:  Seringgit Dua Kupang

 

“Anging Mammiri”

#1

Anging mammiri kupasang (Kepada angin semilir ku berpesan)

Pitujui tontonganna (Sampaikanlah pesanku ke jendelanya)

Tusarroa takkaluppa (Kepada dia yang selalu melupakan)

E aule… Namangngu’rangi (Aduhai, hingga teringatlah dia)

Tutenayya, tutenayya pa’risi’na (Dia yang tak memiliki simpati)

#2

Battumi anging mammiri (Datanglah angin semilir)

Anging ngerang dinging-dinging (Angin yang membawa hawa dingin)

Namalantang saribuku (Dingin yang menusuk hingga ke tulang)

E aule… Mangerang nakku (Aduhai, agar dia dapat mengingat)

Nalo’lorang.. Nalo’lorang je’ne matta (Dan bercucuranlah air mata)

NB 1: Sebenarnya ada stanza #3. Yang punya liriknya, tolong kasih tahu saya!

NB 2: Sebenarnya “e aule” tidak memiliki arti tertentu, di sini saya gunakan “aduhai” sebagai padanannya dalam bahasa Indonesia sebagai pemanis saja

 

Baca juga:  Sumpah Sutji

Nelangsa sekali, bukan? Apalagi kalau lagu ini dinyanyikan saat di perantauan dan sedang menjalani hubungan jarak jauh… Tentu semakin menyayat hati! Kalau sudah tahu arti di balik lagu ini, tentunya akan lebih mudah untuk menghayatinya, baik saat bernyanyi di karaoke dengan teman-teman, di atas panggung, ataupun saat sendiri di kamar merindukan sang kekasih hati.

Sebagai penutup, saya berikan terjemahan “air mata” dalam tiga bahasa utama di Sulawesi Selatan, biar yang sedang sedih dan rindu makin berasa:

  • Je’ne’ mata (bahasa Makassar)
  • Uwae mata (bahasa Bugis)
  • Wai mata (bahasa Toraja)

Sedih sekali, kodong! 

 

Source: budaya-indonesia.org