Banyuwangi sudah dikenal sebagai penghasil beras dengan kualitas tinggi sejak jaman kerajaan. Mayoritas dari penduduk Banyuwangi berprofesi sebagai petani pada kala itu. Salah satu buktinya yaitu daerah Singojuruh, Glenmore, Kemiren dan Licin adalah daerah yang biasa disebut sebagai lumbung padinya masyarakat Banyuwangi atau yang biasa disebut dengan Suku Using. Hasil beras yang ditanam oleh Suku Using terutama yang berupa beras merah unggulan dikirim ke Kerajaan yang ada di Jawa seperti Kerajaan Majapahit, Kerajaan Singosari, dan Kerajaan Kediri.

Baca juga:  Sejarah Alun-Alun Kota Blitar

Pada abad ke 17, masyarakat Suku Using mulai memainkan alat musik Angklung Paglak disela waktu istirahat mereka menanam padi tersebut sambil diiringi alunan pukulan Gendang. Hal tersebut bertujuan untuk menghibur sekaligus merayakan masa panen. Angklung Paglak itu sendiri dibuat sederhana dari bambu yang biasa tumbuh disekitar sawah warga. Berbeda dengan Angklung yang berasal dari Jawa Barat, Angklung Paglak ini adalah alat musik yang dipukul menggunakan kayu yang dibentuk sedemikian rupa agar bisa menghasilkan suara yang nyaring. Tidak seperti Angklung pada umumnya yang hanya bisa menghasilkan 1 buah nada, Angklung Paglak mempunyai 5 buah nada dasar atau yang disebut sebagai alat musik pentatonix. Lagu yang biasa dimainkan dengan alat musik ini adalah lagu khas Banyuwangi seperti Cengkir Gading dan Tanah Kelahiran. Tempat untuk memainkannya pun cukup unik, yaitu diatas gubuk yang tingginya bisa mencapai 10 – 15 meter diatas permukaan sawah mereka. Hal ini bertujuan agar warga disekitar sawah bisa mendengarkan alunan nada yang dihasilkan oleh Angklung Paglak itu sendiri.

Baca juga:  Cikir

Kebiasaan yang dilakukan Suku Using tersebut terus berlangsung hingga masuk masa penjajahan, dan akhirnya sedikit demi sedikit hilang dengan adanya masa tersebut. Dan untuk melestarikan salah satu alat musik dari Banyuwangi tersebut pada tahun 2018 ini Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengadakan Festival Angklung Paglak yang diadakan di Kecamatan Blimbingsari lebih tepatnya didepan bandara kebanggaan masyarakat Banyuwangi yaitu Bandara Blimbingsari. [budaya-indonesia]

Baca juga:  Museum Kesehatan Surabaya