Burung Cendrawasih merupakan burung yang menjadi ikon Papua, dikenal karena kecantikan bulunya yang luar biasa.

Ia bahkan dijuluki bird of paradise atau burung dari surga, mungkin karena kecantikan yang dimilikinya ini seolah-olah tidak ‘membumi’.

Namun sayangnya populasi si Burung Surga ini ternyata sudah diambang kepunahan. Sebab di setiap 1 kilometer persegi, kita hanya bisa menemukan 2-3 ekor cendrawasih.

Kelangkaan burung Cendrawasih ini disebabkan karena kerusakan habitat. Habitat asli burung ini hilang karena perluasan kabupaten baru di Papua, pembangunan jalan, pembangunan perkantoran, pemukiman penduduk, dan pembalakan hutan yang menyebabkan sarang burung Cendrawasih bersama telurnya hancur.

Bukan hanya itu, ancaman berupa perburuan dan perdagangan secara besar-besaran dan ilegal juga masih terjadi. Burung cantik ini ditangkap untuk diawetkan dan dijadikan pajangan serta diperjualbelikan dengan harga yang mahal.

Beberapa jenis Cendrawasih yang cukup populer diantaranya adalah:

Cendrawasih Botak

Cendrawasih Botak atau Cicinnurus respublica merupakan burung berkicau yang ukurannya kecil, panjangnya sekitar 21 cm. Burung jantan punya bulu berwarna merah dan hitam, tengkuknya kuning serta mulut hijau terang. Kulit kepala burung ini berwarna biru muda, mungkin itu yang menyebabkan namanya Cendrawasih Botak.

Baca juga:  Tiga Prasasti Tarumanagara, Bukti Legitimasi Kekuasaan Raja Purnawarman

Burung cantik ini hanya ditemukan di dataran rendah. Tepatnya di pulau Waigeo dan Batanta, Raja Ampat, Papua Barat. Makanan burung Cendrawasih Botak berupa buah-buahan dan serangga kecil.

Cendrawasih Kerah

Cendrawasih Kerah mempunyai nama ilmiah Lophorina superba. Burung jantang berwarna hitam dengan mahkota berwarna hijau pelangi. Mempunyai bulu yang menutupi dadanya berwarna biru hijau. Sedangkan yang betina warnanya coklat kemerahan dan bulu bagian bawahnya bergaris coklat.

Burung Cendrawasih Kerah tersebar di seluruh hutan hujan yang berada di pulau Irian. Burung jantan berusaha menarik perhatian pasangannya dengan menari dan bernyanyi.

Cendrawasih Kuning-besar

Nama ilmiah dari Cendrawasih Kuning-besar adalah Paradisaea apoda. Burung ini memiliki ukuran yang besar, panjangnya sekitar 43 cm. Memiliki warna coklat marun dengan kepala perpaduan antara kuning dan hijau.

Cendrawasih jenis ini tersebar di hutan dataran rendah dan bukit, yang terletak di barat daya pulau Irian dan pulau Aru. Makanannya adalah buah-buahan, biji-bijian dan serangga kecil. Burung ini juga dijuluki sebagai burung surga, Bird of Paradise.

Baca juga:  Curug Gombong, Kesegaran Air Terjun di Kabupaten Batang

Cenderawasih Mati-kawat

Baca juga:   Melawan Upaya Pelemahan Terhadap KPK

Cenderawasih Mati-kawat nama ilmiahnya adalah Seleucidis melanoleucus. Panjangnya sekitar 33cm dan berasal dari genus Seleucidis. Burung jantan mempunyai bulu berwarna hitam mengkilap, pada bagian perutnya dihiasi bulu kuning. Di bagian perut juga terdapat dua belas kawat berwarna hitam.

Burung ini mempunyai paruh yang panjang dan lancip berwarna hitam. Burung betina berwarna coklat dan ukurannya lebih kecil daripada burung jantan. Di tubuhnya tidak terdapat bulu berwarna kuning atau dua belas kawat di sisi perutnya.

Cenderawasih Mati-kawat ditemukan di hutan dataran rendah di pulau Irian. Makanan burung hitam ini adalah buah-buahan dan serangga.

Cendrawasih Merah

Cendrawasih Merah memiliki nama ilmiah Paradisaea rubra. Panjangnya sekitar 33cm, berwarna kuning dan coklat, serta berparuh kuning. Burung jantan ukurannya sekitar 72 cm, bulu yang menghiasi tubuhnya berwarna merah darah dengan ujung putih pada bagian perutnya.

Bulu yang berada di kepala berwarna hijau zamrud gelap, pada bagian ekor terdapat dua buah tali yang panjang berbentuk pilin ganda berwarna hitam. Burung betina ukurannya lebih kecil dari burung jantan, dengan kepala berwarna coklat tua.

Baca juga:  Festival Danau Toba 2013

Cendrawasih Merah hanya ditemukan di hutan dataran rendah pada pulau Waigeo dan Batanta, Raja Ampat, Irian Jaya Barat.

Cendrawasih Panji

Nama ilmiah dari Cendrawasih Panji adalah Pteridophora alberti. Panjangnya sekitar 22 cm, berasal dari genus Pteridophora. Burung jantan mempunyai bulu berwarna hitam dan kuning tua. Pada bagian kepala terdapat dua helai bulu kawat bersisik biru-langit mengkilap.

Panjang dari dua bulu di kepala tersebut dapat mencapai 40 cm dan dapat ditegakkan untuk memikat betina. Bulu yang berada di punggung berbentuk tudung berwarna hitam. Burung betina berwarna abu-abu kecoklatan dengan garis dan bintik gelap. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan dan tanpa ada bulu kawat di kepalanya.

Daerah sebaran Cendrawasih Panji berada di hutan pegunungan pulau Irian. Makanan burung cantik ini adalah buah-buahan, berbagai macam beri dan serangga. [Indovoices.com]