Di desa Sisuga-suga tinggallah seorang tua bernama Ompu Guasa. Dia mempunyai seorang adik bernama Amani Buangga. Namun sang adik tidak seperti abangnya yang sudah lama memiliki banyak harta. Konon pada masa mudanya Ompu Guasa rajin berniaga ke daerah Barus serta punya banyak kenalan. Sekarang uban mulai menjadi mahkota di kepalanya. Sehari-hari pun ia lebih suka berdiam di rumah untuk merenungkan perjalanan hidup. Tiba-tiba pikiran Ompu Guasa terantuk kembali pada kenyataan bahwa dirinya belum memiliki seorang anak lelaki untuk mewarisi semua hartanya. Istrinya pun sudah lama meninggal. Dua orang putrinya, bernama Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan, tak mungkin mewarisi semua harta kelak. Adat selama ini seperti memastikan hak waris hanya dapat diteruskan oleh anak laki-laki. Kenyataan itulah yang sering membuat Ompu Guasa gelisah meskipun adiknya mempunyai keturunan laki-laki
Kegelisahan Ompu Guasa sangat terkesan dalam batuknya. Namun selalu beliau menyembunyikan perasaan dengan mengambil salohat. Alat musik dari bambu itu selalu diselipkan di kantong baju dan dilap sesekali dengan selempangnya, sehelaiulos ragihotang. Jemarinya menekan-nekan empat lobang pada jenis seruling kecil itu sampai perasaannya dapat terbenam.
“Among,” kedua putrinya sebentar menghentikan tiupannya karena mau permisi. “Kami pergi dulu ke sawah. Ayah tinggal di rumah sajalah ya.”
“Ya, berangkatlah kalian!” jawabnya sebelum melekatkan alat musik itu kembali ke bibirnya. Bila sendirian di rumah, Ompu Guasa merasa lebih leluasa memainkan salohatnya sampai terkadang seperti ratapan. Ratapannya memang menjadi tersimpan rapi dalam permainan alat musik itu. Beliau tidak pernah mampu meratap dengan andung karena tidak pintar berkata-kata.
Belum tuntas semua kegelisahan, kedua putrinya tiba-tiba kembali ke rumah. Mereka terusik dan tak tahan mendengar senandung seorang gembala di tengah jalan. Sebenarnya mereka ingin meneruskan langkah sampai ke sawah. Namun hati Siboru Tumbaga langsung seperti disayat sembilu setelah mendengar senandung itu.
“Kenapa kalian kembali tiba-tiba, boruku?” dilihatnya sedikit rasa cemas di wajah putri sulungnya Siboru Tumbaga. Demikian pula pada wajah Siboru Buntulan, adik satu-satunya Siboru Tumbaga.
“Begini, among. Kami sangat berharap agar ayah segeralah menikah lagi,” tandas Siboru Tumbaga. Ompu Guasa menduga kalau kegelisahannya selama ini mengalir dan membuahkan permintaan kedua putrinya itu. Namun ia masih mencoba menolak.
“Mana mungkin aku dapat menikah lagi setua ini. Mataku pun sudah mulai rabun. Perempuan mana lagi yang bersedia kuperistri, wahai putriku? Sudahlah! Biarlah kuterima nasibku.”
“Kumohonkan, among. Jangan lagi menolak permintaan ini. Tadi sebelum mendadak kembali ke rumah ini, ada seorang gembala melantunkan lagu begini: Duhai, perahu di tengah danau! Andai dayungmu patah, kemana gerangan engkau hanyut. Wahai, sang putri yang gemulai. Andai ayahanda mati, kemana gerangan engkau berpaut! Begitulah yang kami tangkap, among!”
” Sudahlah. Kalau takdir pada badan sudah begini diberikan Sang Mulajadi Nabolon, aku tetap bisa menerimanya.” Entah sudah berapa kali Ompu Guasa mencetuskan perkataan itu di hadapan kedua putrinya. Namun karena Siboru Tumbaga tetap mendesakkan permintaan itu, akhirnya Ompu Guasa bersedia. “Kalau begitu terserahmulah, Boru Tumbaga. Kalau aku harus menikah lagi, lakukanlah apa yang bisa engkau lakukan.”

Baca juga:  Asal-Usul Nama Kota Tapak Tuan, Aceh Selatan

Mendengar perkataan terakhir itu, Siboru Tumbaga tergerak untuk berangkat ke Barus. Di Barus ada seorang dukun bernama Datu Partungkot Bosi. Sang dukun sudah lama terkenal dengan berbagai keahliannya untuk meramalkan sesuatu. Datu Partungkot Bosi juga ahli tersohor di wilayah barat negeri yang menguasaidebata ni parmanukon, semacam peta baik-buruk untuk sesuatu yang direncanakan. Dari desa Sisuga-suga ke Barus, orang akan melalui hutan dan tempat-tempat berbahaya terutama bagi kaum perempuan. Saat menempuh perjalanan itu Siboru Tumbaga melakukan penyamaran seperti lelaki. Dipilihnya salah satu pakaian dan topi dari lemari ayahnya. Dia pun tak lupa menggunakan kumis palsu. Sampai kebetulan ketemu di tengah hutan dengan Datu Partungkot Bosi, Siboru Tumbaga selalu berusaha menciptakan gerak-gerik menyerupai seorang laki-laki suruhan. Terkadang dia ketakutan juga dengan penyamaranannya.
“Bah, lae! Kenapa kau ketakutan melihatku?” Tiba-tiba meluncur pertanyaan dari laki-laki di hadapannya itu. “Kita tidak kebetulan sama-sama manusia juga di tengah hutan ini. Kenapa kau kelihatan takut?”
“Kuucapkan salam kepadamu, lae. Horas!” Balas Siboru Tumbaga sambil berusaha menirukan suara lelaki. “Kebetulan aku hendak ke negeri Barus menemui Datu Partungkot Bosi.”
“Kuharap kau jangan berpura-pura tidak mengenalku. Akulah Datu partungkot Bosi. Lalu kenapa kau memerlukanku?” Siboru Tumbaga sempat tidak percaya kalau yang dijumpainya di tengah hutan itu adalah Datu Partungkot Bosi. Namun setelah memperhatikan tampangnya yang serupa dengan cerita Ompu Guasa, Siboru Tumbaga mengakui dirinya sebagai suruhan Ompu Guasa. Lalu dari tuturan sang dukun itu, Siboru Tumbaga kemudian tahu bahwa Ompu Guasa adalah sahabat lama Datu Partungkot Bosi.
Datu Partungkot Bosi tidak begitu sulit menduga hal-hal baik dan buruk melalui debata parmanukon. Datu Partungkot Bosi benar-benar melihat tanda ajal dari sahabat lamanya itu. Ia pun menyarankan kepada Siboru Tumbaga agar melarang Ompu Guasa ke luar rumah dalam waktu seminggu.


Namun karena Ompu Guasa suatu hari berkeras mau memeriksa sawah dan hewan peliharaannya, ramalan Datu Partungkot Bosi itu pun terjadilah. Beberapa orang penduduk yang melihatnya tergelincir di pinggir sawah tergesa-gesa memberi kabar kepada kedua putri yang sedang membersihkan sekeliling rumah. Mereka pun membawa Ompu Guasa kembali ke rumah. Tapi sampai di rumah tampak Ompu Guasa tidak akan lama lagi menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan terbata-bata ia pun menyampaikan pesan kepada kedua putrinya.
“Boru Tumbaga dan Boru Buntulan, simpan…lah barang-barang berhar…ga untuk kalian berdua. Bayangan ibumu sudah sangat dekat untuk men…jem…putttku.”
Pilu yang sangat mendalam memperkuat tangisan Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan. Ditambah lagi ratapan dari beberapa orang di dalam rumah, membuat penduduk lain desa Sisuga-suga bergegas menuju arah tangisan. Satu-satunya manusia yang menahan dirinya tidak bergegas ke sana adalah Amani Buangga. Dia baru ke sana setelah dijemput.
Melewati pintu rumah yang sedang berduka itu, Amani Buangga sengaja pura-pura bertanya sambil mengarahkan pandangannya kepada Siboru Tumbaga: “Bah! Apakah ayahmu ini sudah betul-betul meninggal?” Tak cukup dengan itu, ia melanjutkan lagi: “Sekarang ayahmu sudah meninggal, Boru Tumbaga dan Boru Buntulan. Di mana kalian simpan semua harta itu?” Tentu bukan saja kedua putri itu yang terkejut dengan perilaku Amani Buangga. Salah seorang tetua kampung mencoba mengingatkan agar Amani Buangga lebih dulu melaksanakan adat penguburan jasad Ompu Buangga.
Nampaknya Amani Buangga benar-benar tidak suka diingatkan soal adat penguburan. “Hah! Aku mau datang ke sini hanya untuk mengambil semua harta yang masih ada. Bukan untuk mengurusi adat penguburan kakandaku ini! Mestinya kalian sudah lebih tahu tata cara mengangkat mayat ini ke tempat penguburan.”
“Maaf. Kita hanya ingin melaksanakan adat yang diturunkan leluhur kepada semua kita, termasuk adat untuk penguburan orang meninggal.” Tetua itu kembali mengingatkan Amani Buangga. Namun Amani Buangga semakin memperkeras suaranya dengan nada mengancam. “Kalau kalian tidak mau menguburkan jasad ini, aku akan membuangnya ke pekarangan sana!”
Sungguh tidak terduga perkataan Amani Buangga seperti itu. Apalagi ia ucapkan di tengah kumpulan orang yang tengah berduka. Perkataan itu melanggar adat. Namun tetua kampung merasa lebih baik tidak menanggapi perkataan itu. Ia meminta orang-orang mengangkat mayat Ompu Buangga dan menguburkannya secepat mungkin. Namun selama waktu penguburan, Amani Buangga tetap tinggal di rumah Ompu Guasa. Ia juga tidak mengijinkan Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan keluar dari rumah itu. Malahan ia semakin mencecar mereka dengan pertanyaan soal harta peninggalan Ompu Guasa.
“Aku sudah periksa hombung, peti harta itu! Tak satu pun lagi yang ada di sana. Di mana kalian sembunyikan pinggan pasu dan semua ulos?” Didesaknya terus kedua putri itu secara bergantian. Kalau semua pertanyaan terlambat dijawab, Amani Buangga menampar wajah kedua putri itu. Ketika semua orang mulai kembali dari tempat penguburan, tetua kampung dengan berani kembali menegur Amani Buangga.
“Maaf. Kami sudah kembali dari tempat penguburan. Sekarang kami lihat kamu mulai menyiksa kedua putri ini.” Mendengar teguran ini, Amani Buangga semakin berang dan mengatakan: “Akulah yang berhak di rumah ini. Kalau kubilang mau menggorok leher mereka berdua, aku akan gorok! Kalian mau apa?”
“Kamu benar-benar tidak beradat, Amani Buangga! Memang kamulah yang berhak di rumah ini sekarang dan,,,”
“Kalau kalian sudah tahu, kenapa harus kembali ke rumah ini? Kalian tidak perlu datang lagi ke sini hanya untuk menyinggung adat!” Amani Buangga semakin tak perduli. Amani Buangga malah mengusir dan mencemooh mereka soal penghormatan atas adat. Sepeninggal para tetangga, Amani Buangga terus menyiksa kedua putri itu sebelum akhirnya mengikat mereka sampai beberapa hari di pekarangan rumah. Namun diam-diam pada suatu malam seorang tetangga melepaskan tali yang mengikat tangan kedua putri itu.
Setelah bebas Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan merasa lebih baik meninggalkan desa Sisuga-suga untuk menghindari ancaman Amani Buangga. Demikian pula saran dari tetangga yang membebaskan mereka. Lalu mereka pergi ke hutan yang cukup jauh jaraknya dari desa Sisuga-suga. Namun di tengah hutan mereka berdua tentu kelaparan dan kehausan.
“Kakanda, Boru Tumbaga,” keluh Siboru Buntulan sambil memberi tahu rasa lapar dan hausnya. Mereka lalu memetik buah-buahan yang bisa mereka jumpai di hutan. Berhari-hari mereka berusaha bertahan di hutan itu tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi. Sementara binatang-binatang liar dan buruan berkeliaran di hutan itu. Suatu ketika mereka mendengar suara-suara aneh di kejauhan. Karena takut akan suara-suara itu Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan bersembunyi di balik rumpun-rumpun tanaman besar sambil terus menahan lapar dan dahaga.
Menjelang sore hari, Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan tak kuasa menahan rasa lapar dan haus. Tapi mereka tak tahu harus berbuat apa. Mereka pun menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba dari tempat lain di hutan itu, dua orang pemburu terkejut mendengar suara tangisan mereka. Mereka menduga suara itu hanya tipuan dan menganggap mustahil ada manusia selain mereka berdua saja. Lalu mereka mencoba bergantian meneliti ke arah datangnya suara tangisan itu. Kedua pemburu itu adalah abang beradik yang sebenarnya terkadang sama takutnya.
“Woooi, apakah kalian manusia?” Mendengar suara itu, Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan menyahut: “Yaaa…! Kami manusia!”
Si abang meyakinkan adiknya kalau suara yang menyahut itu benar-benar suara manusia.
“Ah!” Begitulah langsung reaksi adik pemburu itu. “Itu hanya tipuan hantu yang menjaga hutan ini agar kita mendekati mereka sebelum menelan kita. Tapi coba dulu, tanya mereka berapa jumlahnya.”
“Woooi! Kalau kalian benar-benar manusia, berapa orang kalian ada di situ?”
“Dua oraaang!” Sahut kedua putri.
Si abang kembali menyampaikan informasi itu. Lagi-lagi adiknya tidak percaya dengan mengatakan: “Ah, karena mereka sudah tahu kita ada dua di sini, dibilanglah mereka dua. Ayo, ayo. Kita pulang saja sebelum ditelan mereka!”
Karena si abang lebih berpengalaman berada di hutan itu, dia pun berusaha meyakinkan adiknya. Mereka lalu mendekati sumber suara itu sampai bertemu dengan sosok kedua putri yang sudah mulai kelihatan sangat lapar dan haus. Sebelum kedua pemburu itu bisa menanyakan asal-usul kedua putri, mereka terpaksa memberikan seluruh perbekalan makan dan minum mereka.
“Kalau kalian adalah putri Ompu Guasa, kenapa kalian sampai terdampar ke sini?” Setengah tidak percaya, salah seorang pemburu mulai melontarkan pertanyaan. Meskipun para pemburu itu adalah penduduk luar desa Sisuga-suga, nama Ompu Guasa sebagai orang kaya sudah tersiar ke mana-mana. Kemudian Siboru Tumbaga menceritakan kejadian dan perilaku yang mereka terima dari adik kandung ayah mereka sendiri, yakni: Amani Buangga. Kedua pemburu itu bukan saja terkejut dan ingin membantu Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan. Namun kebetulan juga mereka belum mempunyai pasangan hidup. Abang beradik pemburu itu pun menyatakan niat mereka menikahi putri-putri Ompu Guasa. Kedua pasangan tersebut akhirnya hidup berkeluarga.
Namun suami-suami mereka tetap memendam rasa marah atas perlakuan Amani Buangga kepada istri mereka. Suatu ketika keduanya pergi ke desa Sisuga-suga untuk memperlakukan Amani Buangga seperti yang dilakukannya kepada kedua istri. Mereka ikat Amani Buangga di tengah kampung itu. Tibalah saatnya Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan berpura-pura lewat dan melepaskan ikatan Amani Buangga itu. Amani Buangga tidak pernah menduga kalau Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan masih hidup. Akhirnya dengan tulus hati, Amani Buangga menyesali semua perbuatannya dan ingin mengembalikan semua harta yang layak diwarisi oleh Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan.

Baca juga:  Asal-Usul Gunung Semeru