Mungkin masih banyak pembaca yang tidak mengetahui tentang Suku Kajang. Suku Kajang atau yang biasa disebut sebagai masyarakat Ammatoa atau masyarakat Patuntung atau masyarakat Kamase-Masea adalah kelompok masyarakat lokal yang berdiam di Desa Tana Toa, daerah Possi Tana dan wilayah Balagana, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan.

Suku Kajang merupakan salah satu masyarakat lokal yang dinilai masih memiliki sistem kepercayaan yang unik, meskipun sistem tersebut masih bersifat dualistis. Pada satu sisi, mereka percaya pada monoteisme yang ditandai dengan kepercayaan terhadap kekuatan tunggal yang disebut Tu Rie’ A’ra’na.

Di sisi lain, mereka juga percaya pada hal-hal yang bersifat politeisme yang ditandai dengan adanya penyembahan dan pengabdian pada roh-roh dan benda-benda seperti batu, gunung, dan sejenisnya.

Dalam hal struktur dan lembaga sosial, mereka juga memiliki struktur dan lembaga sosial yang bersifat formal. Di samping itu, mereka juga memiliki lembaga sosial tidak formal yang dikenal dengan nama Adat Limaya dan Karaeng Tallua. Sebagaimana lembaga atau struktur yang lain, di dalam lembaga sosial tersebut juga terdapat aktor-aktor tertentu yang mengendalikan gerak dan peranannya masing-masing.

Wilayah pemukiman Suku Kajang secara umum memiliki ciri geologis berupa lahan berpasir, gambut, dan sebagian wilayah merupakan tanah bebatuan. Dari keseluruhan wilayah yang ada, kawasan hutan merupakan yang terbesar dan terluas yang terdiri dari kawasan hutan adat, hutan lindung, dan hutan rakyat. Tanah hutan tersebut banyak mereka pergunakan untuk sektor pertanian dan perkebunan.

Seluruh rumah Suku Kajang menghadap kea rah Barat. Hal itu bukan tanpa alasan. Barat dianalogikan sebagai sebuah arah dimana simbol dari nenek moyang mereka berada. Konsep rumah yang mereka bangun juga seragam tanpa ada yang berbeda sedikit pun. Hal itu mereka lakukan untuk mengungkapkan nilai kesederhanaan dan simbol keseragaman.

Lebih dari itu, material yang mereka gunakan untuk membangun rumah bukanlah batu bata atau tanah. Membangun rumah dengan material tersebut adalah sebuah pantangan bagi mereka. Sebab, mereka percaya bahwa hanya orang mati saja yang diapit oleh liang lahat dan tanah.

Baca juga:  Dalihan Na Tolu

Kendati demikian, masih ada beberapa keluarga Suku Kajang yang menggunakan batu sebagai bahan bangunan rumahnya. Walaupun mereka masih hidup, oleh Suku Kajang yang lain keluarga mereka dianggap mati, berkaitan dengan pantangan tersebut.

Beberapa sumber penelitian menyebutkan bahwa filosofi membangun rumah tanpa batu bata tersebut sebenarnya dilakukan oleh Suku Kajang dalam rangka melindungi hutan. Hal itu cukup logis mengingat pembuatan batu bata tentu memerlukan lebih banyak kayu untuk pembakarannya. Dengan demikian, jumlah pohon yang harus ditebang juga akan semakin banyak. Larangan untuk membangun rumah dengan batu bata secara tidak langsung juga mengurang penebangan hutan.

Sebagian besar Suku Kajang memeluk agama Islam. Meskipun demikian, mereka juga mempraktikkan sebuah kepercayaan adat yang disebut dengan Patuntung. Patuntung diartikan sebagai mencari sumber kebenaran. Hal itu menyiratkan bahwa apabila manusia ingin mendapatkan sumber kebenaran, maka mereka harus menyandarkan diri pada tiga pilar, yaitu Tuhan, tanah, dan nenek moyang. Keyakinan kepada Tuhan adalah kepercayaan yang paling mendasar dalam kepercayaan patuntung. Suku Kajang percaya bahwa Tuhan adalah pencipta dari segala sesuatu, Mahakekal, Mahamengetahui. Mahaperkasa, dan Mahakuasa.

Tuhan atau yang disebut sebagai Turie’ A’ra’na menurunkan perintah atau wahyunya kepada Suku Kajang melalui manusia Kajang pertama yang disebut Ammatoa. Wahyu tersebut dalam kepercayaan mereka disebut dengan pasang. Pasang yang hendak disampaikan bukanlah sembarangan. Pasang tersebut berisi panduan hidup Suku Kajang dalam segala aspek dan lika-liku kehidupan.

Nenek moyang mereka menurunkan pasang itu secara lisan dari generasi ke generasi. Suku Kajang sendiri diwajibkan untuk mematuhi pasang tersebut. Mereka berkeyakinan bahwa apabila mereka melanggar Pasang yang ada, berbagai macam hal buruk akan terjadi dalam kehidupan mereka. Mereka mengenal sebuah filosofi menyangkut hal itu, yaitu “kalau kita jongkok, gugur rambut, dan tidak tumbuh lagi. Kalau kita langkahi, kita akan lumpuh.

Agar pasang tersebut dipatuhi oleh seluruh Suku Kajang, Ammatoa harus terus menjaga dan menyebarkan serta melestarikan pasang tersebut. Keberadaan Ammatoa diyakini sebagai mediator atau penghubung antara manusia (Suku Kajang) dengan Tuhan.

Mitos yang berkembang di kalangan Suku Kajang mengatakan bahwa Ammatoa adalah manusia pertama yang diturunkan diperkampungan mereka. Lokasi pemukiman yang sekarang mereka huni diyakini sebagai tempat pertama kalinya Ammatoa diturunkan oleh Tuhan. Tidak heran jika kemudian mereka menyebutnya sebagai Tanah Toa yang berarti Tanah tertua yang diwariskan oleh leluhur mereka.

Baca juga:  Poda Na Lima - Lima Nasehat

Ammatoa juga disebut sebagai manusia pertama yang mendirikan komunitas Suku Kajang sekaligus pemimpin tertinggi mereka. Menurut cerita yang berkembang, Ammatoa turun ke perkampungan Suku Kajang dengan mengendarai burung Kajang yang konon diyakini sebagai cikal bakal terciptanya manusia. Setelah itu, terciptalah manusia yang menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Di antara banyaknya manusia yang diciptakan oleh Tuhan itu, orang Kajang dari Tana Toa adalah yang paling ia sayangi. Bagi Suku Kajang sendiri, kepercayaan kepada Ammatoa itu dipercaya sebagai sebuah realitas. Di tanah tempat Ammatoa pertama kali mendarat, mereka mendirikan perkampungan yang kemudian dinamai sebagai Tanah Toa atau tempat pertama kalinya manusia turun ke bumi. Oleh sebab itu, Suku Kajang meyakini Ammatoa sebagai pemimpin tertinggi mereka, yang mereka ikuti ajaran dan petuahnya dalam kehidupan sehari-hari.

Hidup dengan kesederhanaan dan bergantung penuh kepada alam, masyarakat suku Kajang yang dikenal dengan ciri khasnya berpakaian serba hitam itu punya beragam ritual unik yang terbilang mengerikan dan hingga saat ini warisan leluhurnya tersebut masih terjaga. Salah satunya ritual memegang linggis yang telah dibakar hingga berwarna merah membara sebagai wadah mengetes kejujuran masyarakatnya.

Ritual memegang linggis panas tersebut dikenal dengan nama ritual attunu panroli. Ritual itu biasanya dilaksanakan dalam upacara adat yang melibatkan seluruh masyarakat suku kajang jika terdapat masalah. Di antaranya terjadi kasus pencurian di tengah pemukiman masyarakat adat.

Satu persatu mereka yang dicurigai sebagai maling pun akan diminta memegang linggis panas yang awalnya dipegang oleh Ammatoa. Jika mereka betul bukan yang melakukannya maka linggis panas yang dipegang tersebut terasa dingin tanpa sedikit pun hawa panas yang dirasakan. Tapi sebaliknya jika dia pelakunya dan kemudian tidak mengaku maka dipastikan tangannya akan melepuh ketika linggis panas itu dipegangnya.

Baca juga:  Beluluh, Upacara Pensucian Sang Sultan

Suku Kajang juga mengenal ilmu kesaktian yang disebut dengan Doti. Doti sendiri merupakan ilmu sejenis santet yang digunakan untuk menciderai atau membunuh seseorang. Ritual menyantet ini sendiri hanya menggunakan media berupa foto bertuliskan nama calon korban, dilengkapi seekor ayam putih, serta segelas air putih.

Proses yang dilakukan mula-mula adalah dengan meletakkan foto orang yang disantet di bawah gelas air putih, kemudian sang dukun akan memegang ayam dan dihadapkan di depan gelas sambil membaca mantera. Dikatakan sukses apabila ayam mati dan air putih tadi berubah warna menjadi merah.

Tentang keganasan Doti ini sendiri sudah melekat kuat bahkan menjadi legenda yang disematkan pada suku Kajang. Doti ini tidak dilakukan oleh sembarang orang, melainkan ada beberapa orang pilihan yang bisa melakukan ilmu hitam tersebut hingga berhasil.

Bagi mereka yang terkena santet doti ini akan mengalami cacat permanen pada ingatannya disertai nyeri luar biasa hingga berakibat pada kematian mendadak. Asal diketahui doti ini tidak hanya menyerang satu orang saja lho, melainkan bisa membunuh satu keluarga sekaligus.

Disebabkan tidak semua orang suku Kajang bisa melakukan santet, maka dukun yang gagal melakukan misinya pun akan mendapatkan konsekuensi. Biasanya santet yang diterjunkan kembali ke si penyantet dan akan langsung meninggal di tempat. Tidak sampai di situ saja ternyata, sebab efeknya pun merembet juga pada keturunan-keturunan si dukun.

Oleh karena itu ada baiknya buat memikirkan kembali menggunakan ilmu santet mengingat risiko yang diperoleh pun juga besar. Apalagi taruhan utamanya adalah nyawa.

Meski memiliki ilmu hitam yang terkenal mematikan, namun sejatinya Suku Kajang adalah suku yang rendah hati oleh didikan alam dan bisa menerima orang baru. Anak cucunya pun sudah banyak yang merantau ke kota besar maupun keluar pulau. Dengan catatan si pendatang ikut aturan yang berlaku di sana, menjaga perilaku dan juga mengikuti tradisi, maka orang-orang Kajang bisa jadi keluarga baru.

Referensi:

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Suku_Kajang

https://www.boombastis.com/doti-suku-kajang/84636

Trailer Suku Kajang Sulawesi Selatan

 

Penulis: Robin